News

Pentas Reyog Malam Bulan Purnama - Bulan September

September 8, 2017

Rabu, 6 September 2017, Panggung utama aloon-aloon Ponorogo kembali menggelar acara rutin Pentas Reyog Malam Bulan Purnama. Disela rangkaian acara Grebeg Suro 2017 dan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo, pentas rutin ini tetap diadakan. Dimulai pada pukul 20.00 pengunjung pada malam tersebut juga sangat banyak dan memenuhi sekitar panggung untuk menyaksikan penampilan luar biasa dari penari-penari berbakat.

Mengawali acara pada malam tersebut adalah penampilan dari Sanggar Tari Kridha Utama Ds. Jurug, Kec. Sooko yaitu tari Senduk Cilik. Dengan jumlah penari 15 anak dengan kelompok usia SD. Mereka menari dengan seolah-olah menggambarkan seorang anak perempuan cantik dan suka menari dengan gerakan yang lincah, penuh dengan keceriaan tanpa mengenal lelah. Penampilan selanjutnya yaitu tari Kluwung Emas berasal dari sanggar tari yang sama yaitu dari Ds. Jurug, Kec. Sooko. Tarian tersebut menceritakan keindahan warnamu menjadi penyejuk mata, pancaranmu bagai jembatan ke surga, terbayang legenda jalannya bidadari menuju kahyangan.

Penampilan berikutnya adalah tari Dolanan Blarak dari sanggar tari Ayu Puspita Jl. Veteran 19 A Ponorogo. Dengan jumlah penari sebanyak 7 anak dengan kelompok usia SD. Tari Dolanan Blarak menggambarkan tentang tari dolanan anak yang sedang bermain dengan menggunakan daun kelapa (blarak) diwaktu sore hari dimana ditarikan oleh anak-anak kecil dengan lincah. Kemudian tak kalah menarik yaitu penampilan dari sanggar tari Tapak Dhara dengan menampilkan tari Dolanan Anak Gunung Bungkus. Degan jumlah penari 65 orang dari kelompok usia SD menampilkan tarian yang memenuhi panggung dan durasi yang cukup lama yaitu 30 menit.Tari Dolanan Anak Gunung Bungkus ini menceritakan keceriaan anak-anak di lereng gunung bungkus Badegan, yang diapresiasikan ke tari dolanan.

Dengan berasala dari sanggar yang sama, berikut penampilan dari SMA N 1 Sooko yaitu dengan judul tari Seblang Lukinto, dengan jumlah penari 7 orang dan durasi selama 7 menit. Tari Seblang bukanlah satu-satunya tari tradisional Indonesia yang diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanaman yang mereka peroleh. Kemudian tidak kalah menarik yaitu penampilan dari tari Geger Bumi Wengker dengan jumlah penari 8 orang. Tari ini menggambarkan kerajaan Wengker yang awal mulanya tentram dan damai, sekrang berubah suasana menjadi keruh, karena antara kerajaan wengker dan Klono Sewandono yang mengalami perselisihan. Raja Klono Sewandono yang menginginkan dewi Songgolangit menjadi permaisuri digagalkan oleh Singo Barongyang sama-sama ingin mempersunting dewi Songgolangit. Akhirnya keduanya berperang untuk memperebutkan.

Terakhir adalah penampilan juga dari SMA N 1 Sooko yaitu tari Sri Panganti dengan jumlah penari 10 orang kelompok usia SMA. Tari Sri Panganti, dengan “Sri” artinya perempuan dan “Panganti” artinya penantian/menunggu. Sri Penganti dalah sebuah gambaran hati seorang perempuan yang sedang bergejolak menunggu datangnya pria idaman. Dia adalah gadis Jawa yang menginjak dewasa. Pada usianya yang penuh gejolak, dia hanya bisa pasrah menunggu datangnya harapan yang selalu diidamkan. Bersoleknya, dandanannya, lenggak lenggoknya menjadikan khas penampilan untuk melihat si jantung hati. Sri Panganti siap menanti.

Diakhiri dengan penampilan grup Reyog Singo Manggolo Joyo panggung utama aloon-aloon Ponorogo sangat menyita perhatian masyarakat. Grup reyog ini berasl dari ds. Ngabar kec. Siman pimpinan bapak Ahmad Habibulloh dengan dihadiri juga oleh Ibu camat kec. Siman yaitu ibu Dewi Wuri. Menampilkan tarian yang sangat bagus, grup reyog tersebut mendapatkan tepuk tangan meriah dari pengunjung.

Kontributor: Lukman J

What's Happening

Adalah sebuah warisan indahnya seni dan budaya yang ada di Ponorogo serta keindahan alam yang masih terjaga

Pameran Pusaka Grebeg Suro 2017 September 20, 2017