GREBEG SURO

Terdapat banyak cara masyarakat Jawa dalam memperingati tahun baru Islam. Namun yang paling meriah ada di Ponorogo. Grebeg dalam istilah bahasa jawa berarti suatu hal (kejadian, peristiwa) yang ramai atau menimbulkan keramaian. Sementara Suro berasal dari kata As-Syura, sebutan lain untuk bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Islam/Hijriyah. Maka, Grebeg Suro secara harfiah adalah peristiwa keramaian saat pergantian tahun (baru) Hijriyah. Grebeg Suro menjadi adat masyarakat Ponorogo dalam menyambut pergantian tahun baru Islam selama ratusan tahun. Berbagai kegiatan yang bersifat perayaan maupun perenungan diadakan selama Grebeg Suro di Ponorogo.

 

FEST.NASIONAL REYOG PONOROGO XXV & FEST.REYOG MINI XVI

Sebagai bumi kelahiran seni Reyog Ponorogo, tak heran jika Ponorogo memiliki sebuah event akbar berkelas nasional untuk menampilkan kelompok-kelompok reyog terbaik. Puluhan grup reyog dari seantero Indonesia beradu penampilan dalam FNRP yang pada 2018 ini memasuki usia penyelenggaraan ke-seperempat abad. Grup reyog terbaik akan dinobatkan sebagai pemenang Trophy Bergilir Presiden RI. Sementara itu, puluhan grup reyog anak juga akan beradu kebolehan pada ajang FRM XVI dan juga memperebutkan Trophy Bergilir Bupati Ponorogo. Selama sepekan penuh, masyarakat dan para wisatawan pengunjung Grebeg Suro akan disuguhi pagelaran akbar yang bertempat di Panggung Utama Aloon-aloon Ponorogo ini.

 

KIRAB BEDHOL PUSAKA & KIRAB PUSAKA

Malam 1 Suro menjadi momen bagi masyarakat Ponorogo untuk memperingati sang pendiri Kadipaten Ponorogo, Raden Bathoro Katong. Tiga buah pusaka peninggalan R.Bathoro Katong dibedhol pada dini hari sehari sebelum malam 1 Suro untuk diberangkatkan dari Pringgitan Rumah Dinas Bupati Ponorogo menuju Makam Bathoro Katong. Kirab Bedhol Pusaka yang berlangsung tengah malam ini menempuh jarak sekitar 5 kilometer dengan rombongan yang kesemuanya dilarang mengeluarkan sepatah kata pun. Lampu kota pada Kirab Bedhol Pusaka juga sengaja dimatikan demi khidmatnya kirab yang diterangi oleh ratusan obor ini.

Keesokan sorenya, giliran ketiga pusaka dikirab dari Makam Bathoro Katong menuju Aloon-aloon Ponorogo untuk kemudian dijamas/dimandikan disana. Di akhir prosesi, masyarakat Ponorogo akan saling berebut Buceng Porak yang merupakan gunungan berisi hasil bumi sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

FESTIVAL 1000 DIAN & LARUNGAN TELAGA NGEBEL

Tepat di malam 1 Suro masyarakat sekitar Telaga Ngebel melaksanakan tirakatan, berdoa, dan kemudian diakhiri dengan kirab berkeliling telaga menanamkan potongan kaki kambing kendit pada empat penjuru telaga. Setelah itu, prosesi diakhiri dengan melarung kepala kambing di tengah Telaga Ngebel. Seluruh kegiatan dari kirab hingga larung diikuti secara antusias oleh ribuan pemuda-pemudi setempat yang membawa obor, sehingga menambah suasana khidmat di seluruh kawasan telaga.

Pagi harinya, Bupati Ponorogo beserta para sesepuh adat memimpin upacara pemberangkatan Buceng Porak untuk kemudian dilarung bersama-sama di tengah telaga. Ribuan masyarakat dan wisatawan menyemut di sekitar kawasan dermaga untuk menyaksikan momen sakral ini.

 

REYOG PONOROGO

Sebagai Bumi Reyog Ponorogo, anda tidak perlu khawatir tidak dapat menonton Reyog Ponorogo. Setiap bulannya Ponorogo memiliki pentas-pentas rutin yang diselenggarakan yaitu Pentas Reyog Malam Bulan Purnama, Gebyar Reyog Telaga Ngebel, juga Gelar Reyog Bantarangin Mapag Tanggal. Selain itu, terdapat banyak sekali pementasan reyog yang juga digelar di desa-desa baik dalam bentuk pertunjukan Reyog Obyog maupun Reyog Garapan.

 

GREBEG TUTUP SURO BANTARANGIN

Somoroto merupakan salah satu kabupaten lama yang kemudian bersatu dengan Kadipaten Ponorogo untuk menjadi Kabupaten Ponorogo. Di tanah Somoroto terdapat sebuah kawasan Sabukjanur, yang diyakini oleh masyarakat sebagai petilasan kerajaan Bantarangin, kerajaan sang Prabu Klonosewandono, tokoh protagonis dalam sejarah asal mula Reyog Ponorogo. Mengakhiri rangkaian perayaan pergantian tahun baru Islam, masyarakat Somoroto dan sekitarnya, yang lebih dikenal dengan wong kulon kali, memiliki adat dalam menutup bulan Suro dengan serangkaian kegiatan, seperti; Ritual Malam, Wayang Kulit semalam suntuk, Kirab Bedhol Pusaka Bantarangin, dan Gelar Reyog Bantarangin.

 

LIHAT FOTO-FOTO PESONA BUDAYA PONOROGO, klik disini

AYO KE PONOROGO!