MASJID & MAKAM TEGALSARI

Tegalsari dibabad dan kemudian didirikan sebagai sebuah pesantren oleh Kyai Ageng Mohammad Besari, yang dari ibunya merupakan cicit dari Sunan Ampel, dan dari ayahnya mengalir darah raja Majapahit. Kyai Ageng Mohammad Besari selanjutnya berhasil mendidik anak cucunya menjadi kyai-kyai besar. Pesantren Tegalsari mengalami masa jaya dibawah asuhan Kyai Ageng Kasan (Hasan) Besari, cucu dari Kyai Ageng Mohammad Besari. Pada saat itu, santri Tegalsari mencapai jumlah belasan ribu dan berasal dari seantero nusantara.

 

Sanad keilmuan Islam Tegalsari Nasab Guru Bangsa

 

Anda mengenal Pondok Pesantren Tremas di Arjosari, Pacitan? Ya, Desa Tremas, yang merupakan kampung halaman orangtua Presiden RI ke-6, Soesilo Bambang Yudhoyono, terdapat salah satu perguruan Islam tertua. Pendirinya, Kyai Abdul Manan Dipomenggolo, merupakan seseorang yang nyantri di Tegalsari. Alkisah, Kyai Ageng Mohammad Besari lah yang suatu malam melihat fadhilah (keutamaan) Abdul Manan muda yang wajahnya bersinar terang saat tengah tidur malam. Ilmu yang didapat Abdul Manan muda dari nyantri di Tegalsari menjadi bekalnya mendirikan pesantren di daerah Manten, sebelum akhirnya oleh cucunya dipindah ke Arjosari.

Dari Kyai Abdul Manan ini kemudian muncul kyai-kyai besar, yang salah satunya ialah Syekh Mahfud At-Turmusi, cucu Kyai Abdul Manan yang menjadi imam Mekkah. Dari Syekh Mahfud inilah dua tokoh besar pergerakan Islam nasional; Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari dan Kyai Ahmad Dahlan berguru.

Selanjutnya ada nama Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto yang tentu tidak asing bagi anda. Ia merupakan cucu dari R.M.A.A Tjokronegoro II, seorang Bupati Ponorogo yang namanya diabadikan sebagai nama Masjid Agung Ponorogo. Cokro merupakan cicit dari Kyai Ageng Kasan Besari. Cokro kemudian menjadi hulu sanad ilmu bagi para tokoh pergerakan nasional, dan terutama sekali yang paling populer tentu saja Ir.Soekarno, presiden pertama Indonesia merdeka.

 

Tegalsari hari ini

 

Kawasan Masjid Tegalsari yang terdiri dari masjid, komplek makam, dan bangunan rumah peninggalan berbentuk joglo berada di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Timur. Saking pentingnya Tegalsari, anda juga dapat menemukan miniatur Masjid Tegalsari di Jawa Timur Park I, Malang.

Kegiatan keagamaan di Masjid Tegalsari berlangsung sepanjang tahun. Terdapat kegiatan rutin harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Ratusan peziarah mendatangi Tegalsari dari seluruh Indonesia. Puncak kunjungan peziarah ke Tegalsari terjadi pada bulan Ramadhan setiap tahunnya, terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

 

MAKAM BATHORO KATONG

Raden Bathoro Katong yang menurut Handbook of Oriental History diwisuda menjadi adipati Ponorogo pada Ahad Pon, tanggal 1 bulan Besar tahun 1418 Saka, atau bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 1496 atau 1 Dzulhijjah 901 Hijriyah. Untuk itulah kemudian tanggal 11 Agustus diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Raden Bathoro Katong merupakan salah satu putra Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit. Ia juga adik beda ibu dari Raden Patah, Sultan Demak pertama. Kedatangan Bathoro Katong ke tanah Wengker pada saat itu selain mengemban amanah politis dari ayahnya, juga mengemban misi agamis dari kakaknya, Raden Patah, dan juga gurunya, Sunan Pandanaran, Bayat, Klaten. Sampai saat ini, makam pendiri Ponorogo yang terletak di Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan ini masih terus ramai diziarahi.

 

ASTANA SRANDIL

Pasarean (Astana) Srandil terletak di Desa Srandil, Kecamatan Jambon, berjarak 11 kilometer ke arah barat dari pusat kota Ponorogo. Astana Srandil merupakan komplek pemakaman bupati-bupati Somoroto. Ciri khas pemakaman Nusantara lekat terlihat di komplek pemakaman ini dengan bentuknya punden berundak dan letaknya di atas bukit-bukit.

Pasarean Astana Srandil berdiri diatas lima bukit yang saling sambung menyambung. Kelima bukit tersebut bernama Bukit Lemu, Bukit Bancak, Bukit Ngrayu, Bukit Srayu, dan Bukit Srandil. Tokoh pertama yang dimakamkan dan menjadi cikal bakal berdirinya Pasarean Astana Srandil adalah Raden Mertokusumo, patih Kabupaten Polorejo yang menjadi pendukung Pangeran Diponegoro melawan penjajah Kolonial Belanda.

 

GOA MARIA SENDANG TIRTO WALUYOJATI

Situs wisata ziarah ini diresmikan oleh Mgr. A. J. Dibjakarjana, Uskup Surabaya, pada 27 Mei 1988. Sendang Tirto Waluyojati merupakan tempat ibadah dan ziarah bagi penganut Katolik. Terdapat patung Bunda Maria yang menjadi ikon destinasi ziarah ini. Terletak di Desa Klepu, Kecamatan Sooko, berjarak 30 kilometer dari pusat kota Ponorogo ke arah tenggara, tempat ini menjadi salahsatu tujuan ziarah umat Katolik di Pulau Jawa.

Atas kepedulian pemerintah daerah Kabupaten Ponorogo kemudian melengkapi Sendang Tirto Waluyojati dengan Lapangan Tempat Berdoa, Jalan Salib melingkar menuju tempat ziarah, Gereja Stasi, dan Gereja Sakramen Mahakudus. Selain berziarah, di tempat ini para pengunjung dapat pula menikmati alam asri di sekitarnya yang dikelilingi hutan pinus. Lokasinya juga searah dengan beberapa destinasi wisata lainnya seperti Air Terjun Pletuk dan Gunung Bedes.

 

LIHAT FOTO-FOTO PESONA RELIGI PONOROGO, klik disini